Wednesday, May 30, 2012

Theory of Translation

 
      

Seseorang yang ingin menjadi penterjemah yang baik kini diperlukan memenuhi empat syarat utama seperti yang berikut:
  • Menguasai bahasa sumber secara mendalam: Keperluan ini dikehendaki untuk membolehkan seseorang penterjemah mengetahui seluk-beluk keistimewaan dan keganjilan bahasa sumber supaya dapat membedakan makna yang terkandung dalam teks asal dan dengan itu, mentakrifkan maksudnya dengan tepat.
  • Mengetahui bahasa penerima: Mengikut pakar terjemahan hari ini, seseorang penterjemah harus juga menguasai bahasa penerima dengan sama baik, jika bukan dengan lebih baik.
  • Pengetahuan dalam bidang yang diterjemahkan: Untuk menjamin supaya makna atau maklumat yang terkandung dalam teks asal dapat dipindahkan dengan tepat dan sempurna daripada bahasa sumber ke dalam bahasa penerima, seseorang penterjemah harus mengetahui dengan secukupnya bidang yang hendak diterjemahkan.
  • Mengetahui teori dan amalan terjemahan: Penterjemah tidak hanya mencari perkataan-perkataan padanan yang boleh menggantikan perkataan-perkataan asal dalam bahasa sumbernya tetapi penterjemah juga bertanggungjawab untuk memindahkan idea, maklumat dan gaya teks yang diterjemahkan. Ini bermaksud bahwa penterjemahan perlu dibantu oleh ilmu pengetahuan yang mencukupi dalam bidang teori dan kaedah terjemahan semasa menjalankan tugasnya.


Etienne Dolet ( 1509 1546 ) ialah bapak teori terjemahan yang merupakan orang pertama untuk mengemukakan lima prinsip pada tahun 1540 seperti berikut:
  1. Penterjemah harus benar-benar memahami isi dan hasrat penulis teks asal.
  2. Penterjemah harus menguasai bahasa sumber dan bahasa penerima terjemahan dengan baik.
  3. Penterjemah tidak boleh menterjemahkan perkataan demi perkataan.
  4. Penterjemah hendaklah menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang biasa digunakan dalam bahasa penerima.
  5. Penterjemah harus menciptakan kesan keseluruhan teks sumber yang betul melalui pemilihan dan susunan perkataan yang dibuatnya.

tr
2.    Proses Penerjemahan
       Dr. Ronald H. Bathgate, dalam karangannya yang berjudul "A Survey of Translation Theory ", mengungkapkan tujuh unsur, langkah atau bagian integral dari proses penerjemahan sebagai berikut ini:
1. Tuning (Penjajagan),
2. Analysis (Penguraian),
3. Understanding (Pemahaman),
4. Terminology (Peristilahan),
5. Restructuring (Perakitan),
6. Checking (Pengecekan) dan
7. Discussion (Pembicaraan) (A. Widyamartaya, 1989: 15).

       Sedangkan menurut Ibnu Burdah (2004: 29), menyebutkan bahwa secara garis besar, ada sedikitnya tiga tahapan kerja dalam proses menerjemah, yaitu:
a. Penyelaman pesan naskah sumber yang khendak diterjemah,
b. Penuangan pesan naskah sumber ke dalam bahasa sasaran dan
c. Proses editing.

       Jadi sebagaimana menurut Langgeng Budianto (2005: 4) penerjemah dapat menghasilkan suatu terjemahan bagus dan efektif apabila dalam penyampaian intensi penulis merupakan tujuan setiap proses penerjemahan. Keefektifan terjemahan ditentuakan oleh tiga faktor:
1. Derajat pengetahuan penerjemah,
2. Derajat pencapaian tujuan penerjemahan, dan
3. Derajat kepuasan penerjemah.


3.       Klasifikasi Terjemah
       Terjemahan dapat diklasifikasikan dalam berbagai jenis. Apabila dilihat dari tujuan penerjemahan, Brislin (dalam Emzir, 1999: 4) menggolongkan terjemahan ke dalam empat jenis, yaitu:
a.       Terjemahan Pragmatis, yaitu terjemahan yang mementingkan ketepatan atau akurasi informasi.
b.      Terjemahan Astetis-Puitis, yaitu terjemahan yang mementingkan dampak efektif, emosi dan nilai rasa dari satu versi bahasa yang orisinal.
c.       Terjemahan Etnografis, yaitu terjemahan yang bertujuan menjelaskan konteks budaya antara bahasa sumber dan bahasa sasaran.
d.      Terjemahan Linguistik, yaitu terjemahan yang mementingkan kesetaraan arti dari unsur-unsur morfem dan bentuk gramatikal dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran.

       Dilihat dari jauh dekatnya terjemahan dari bahasa sumber dan bahasa sasaran, terjemah dapat diklasifikasikan ke delapan jenis. Kedelapan jenis terjemahan tersebut dapat dikategorisasikan dalam dua bagian besar.
·         Pertama , terjemahan yang lebih berorientasi pada bahasa sumber, dalam hal ini penerjemah berupaya mewujudkan kembali dengan setepat-tepatnya makna kontekstual penulis, meskipun dijumpai hambatan sintaksis dan semantik yakni hambatan bentuk dan makna.
·         Kedua , terjemahan yang lebih berorientasi pada bahasa sasaran. Dalam hal ini penerjemah berupaya menghasilkan dampak yang relatif sama dengan yang diharapkan oleh penulis asli terhadap pembaca versi bahasa sasaran (Choliludin, 2005: 205).

a.    Klasifikasi terjemahan yang berorientasi pada bahasa sumber:
1)        Terjemahan kata demi kata (word for word translation ). Penerjemahan jenis ini dianggap yang paling dekat dengan bahasa sumber. Urutan kata dalam teks bahasa sumber tetap dipertahankan, kata-kata diterjemahkan menurut makna dasarnya diluar konteks.
2)        Terjemahan Harfiah (literal translation ) atau sering juga disebut terjemahan struktural. Dalam terjemahan ini konstruksi gramatikal bahasa sumber dikonversikan ke dalam padanannya dalam bahasa sasaran, sedangkan kata-kata diterjemahkan di luar konteks.
3)        Terjemahan setia (faithful translation ). Terjemahan ini mencoba menghasilkan kembali makna kontekstual walaupun masih terikat oleh struktur gramatikal bahasa sumber.
4)        Terjamahan semantis (semantic teranslation ). Berbeda dengan terjemahan setia. Terjemahan semantis lebih memperhitungkan unsur estetika teks bahasa sumber, dan kreatif dalam batas kewajaran. Selain itu terjemahan setia sifatnya masih terkait dengan bahasa sumber, sedangkan penerjemahan semantis lebih fleksibel. 

b.    Klasifikasi terjemahan yang berorientasi pada bahasa sasaran:
1)        Terjemahan adaptasi (adaptation ). Terjemahan inilah yang dianggap paling bebas dan paling dekat kebahasaan sasaran. Terutama untuk jenis terjemahan drama dan puisi, tema, karakter dan alur biasanya dipertahankan.
2)        Terjemahan bebas (free trantation ). Penerjemahan bebas adalah penulisan kembali tanpa melihat tanpa aslinya. Biasanya merupakan parafrase yang dapat lebih pendek atau lebih panjang dari aslinya.   
3)        Terjemahan idiomatik (idiomatic translation ). Dalam terjemahan jenis ini pesan bahasa sumber disampaikan kembali tetapi ada penyimpangan nuansa makan karena mengutamakan kosa kata sehari-hari dan idiom dan tidak ada di dalam bahasa sumber tetapi bisa dipakai dalam bahasa sasaran.
4)        Terjemahan komunikatif (communicative translation ). Terjermahan ini berusaha menyampaikan makna kontekstual dari bahasa sumber sedemikian rupa, sehingga isi dan bahasanya berterima dan dapat dipahami oleh dunia pembaca bahasa sasaran. Terjemahan ini biasanya dianggap terjemahan yang ideal.
 tr

B.   Pergeseran Makna

Menurut Catford (1965:20), penerjemahan berarti mentransfer bahasa sumber ke bahasa sasaran. Penerjemahan merupakan penggantian materi tekstual pada bahasa sumber ke bahasa sasaran. Dalam proses penerjemahan, penerjemah selalu berusaha mendapatkan unsur bahasa sasaran yang sepadan dengan bahasa sumbernya agar dapat mengungkapkan pesan yang sama dalam teks sasaran. Karena setiap bahasa mempunyai aturan tersendiri, maka perbedaan aturan ini akan menyebabkan terjadinya pergeseran.
Simatupang (2000:74-82) menyebutkan jenis-jenis pergeseran dalam terjemahan sebagai berikut:
  1. Pergeseran pada tataran morfem
Inggris Indonesia
Im possible       :           tidak mungkin
re cycle             :           daur ulang

  1. Pergeseran pada tataran sintaksis
    1. Kata ke frasa
Inggris Indonesia
girl                   :           anak perempuan
stallion             :           kuda jantan
  1.  
    1. Frasa ke klausa
Inggris
Not knowing what to say, (he just kept quiet)
Indonesia
(Karena) dia tidak tahu apa yang hendak dikatakannya, (dia hanya terdiam)
  1.  
    1. Frasa ke kalimat
Inggris
His misinterpretation of the situation (caused his downfall).
Indonesia
Dia salah menafsirkan situasi (dan itulah yang menyebabkan kejatuhannya).
  1.  
    1. Klausa ke kalimat
Inggris
Her unusual voice and singing style thrilled her fans, who reacted by screaming, crying, and clapping.
Indonesia
Suaranya yang luar biasa dan gayanya bernyanyi memikat para penggemarnya. Mereka memberikan rekasi dengan berteriak-teriak dan bertepuk tangan.
  1.  
    1. Kalimat ke wacana
Inggris
Standing in a muddy jungle clearing strewn with recently felled trees, the Balinese village headman looked at his tiny house at the end of a line of identical buildings and said he felt strange.
Indonesia
Kepala kampung orang Bali itu berdiri di sebuah lahan yang baru dibuka di tengah hutan. Batang-batang pohon yang baru ditebang masih berserakan di sana-sini. Dia memandang rumahnya yang kecil yang berdiri di ujung deretan rumah yang sama bentuknya dan berkata bahwa dia merasa aneh.

  1. Pergeseran kategori kata
a. Nomina ke adjektiva
Inggris Indonesia
He is in good health .               :           Dia dalam keadaan sehat .
b. Nomina ke verba
Inggris Indonesia
We had a very long talk .         :           Kami berbicara lama sekali.

  1. Pergeseran pada tataran semantik
Pergeseran makna pada tataran semantik dapat berupa pergeseran makna generik ke makna spesifik maupun sebaliknya. Misalnya pada penerjemahan kata bahasa Inggris leg atau foot ke dalam bahasa Indonesia, maka padanan yang paling dekat untuk kedua kata tersebut adalah kaki. Di sini penerjemahan bergerak dari makna spesifik ke makna generik.
  1. Pergeseran makna karena perbedaan sudut pandang budaya
Pergeseran makna juga terjadi karena perbedaan sudut pandang dan budaya penutur bahasa yang berbeda. Misalnya orang Inggris menghubungkan ruang angkasa dengan kedalaman, sedangkan orang Indonesia dengan ketinggian atau kejauhan. Jadi orang Inggris akan mengatakan The space-ship travelled deep into space , sedangkan orang Indonesia akan berkata Kapal ruang angkasa itu terbang tinggi sekali di ruang angkasa.



C.   Makna dan Terjemah

o   Istilah makna mengacu pada pengertian yang sangat luas. Ullmann menyatakan bahwa makna adalah salah satu dari istilah yang paling kabur dan kontroversial dalam teori bahasa. Dalam hal ini Ullmann mengemukakan bahwa ada dua aliran dalam linguistik pada masa kini, yaitu :
a.         pendekatan analitik dan referensial yang mencari esensi makna dengan cara memisah-misah kan menjadi komp o nen-komponen utama.
b.        pendekatan rasional yang mempelajari kata dalam operasinya, yang kurang memperhatikan persoalan apakah makna itu, tetapi lebih tertarik pada persoalan bagaimana kata itu bekerja.

o   Menurut Suryawinata (1989: 21-22) ada lima macam makna, yaitu makna LEKSIKAL, GRAMATIKAL, TEKSTUAL, KONTEKSTUAL atau SITUASIONAL, dan makna SOSIOKULTURAL.
o   Disisi lain, istilah MAKNA, MAKSUD dan INFORMASI ini sering dipertukarkan begitu saja, padahal satu sama lainnya sangatlah berbeda. MAKNA adalah isi semantis sebuah unsur bahasa, FENOMENA yang berada di dalam bahasa itu sendiri (internal phenomenon ), sementara maksud adalah fenomena yang berada pada pemakai bahasa itu sendiri. Sedangkan INFORMASI adalah sesuatu yang berada di luar bahasa (external phenomenon ), yakni sesuatu (obyek) yang dibicarakannya. Apabila makna bersifat linguistik, maka MAKSUD itu bersifat subjektif dan INFORMASI bersifat objektif.

o   Larson (1984: 26) yang membicarakan makna dalam penerjemahan, mengemukakan bahwa untuk melihat bentu k dan makna ialah dengan memikirkannya sebagai STRUKTUR LAHIR, yang mencakup struktur LEKSIKAL, GRAMATIKAL, dan FONOLOGIS. STRUKTUR BATIN yang merupakan MAKNA SEMANTIS yang tidak tersusun sama seperti STRUKTUR LAHIR. STRUKTUR LAHIR berkaitan dengan informasi eksplisit yang memberikan informasi yang diungkapkan secara jelas dengan unsur leksikal dan bentuk gramatikal. Sedangkan UNSUR BATIN berkaitan dengan informasi implisit yang tidak memiliki bentuk, tetapi merupakan bagian dari keseluruhan informasi yang dimaksudkan oleh penulis dalam teks bahasa sumber.

o   Dalam hal ini, seorang penerjemah dihadapkan pada pelbagai masalah. Menurut Savory (dalam Soemarno, 1983) kesulitan dalam penerjamahan dapat bersumber pada jenis dan bahasa yang diterjemahkan. Savory mengkategorikan naskah terjemahan sebagai berikut:
1. Teks yang bersifat informatif,
2. Teks yang berisi cerita,
3. Teks yang bernuansa karya-karya sastra dan
4. Teks yang berisi ilmu pengetahuan dan teknik.



D.   Kendala Dalam Terjemahan

 

            Permasalahan dalam terjemahan dapat dibagi menjadi: Problem Lingiustik dan Problem Budaya .

o   Problem Linguistik mencakup perbedaaan tata bahasa, kosakata-kosakata yang berbeda, dan makna masing-masing kosakata;

o   Problem budaya : berkaitan dengan bentuk situasi yang berbeda. 

 

Budaya merupakan masalah utama yang menjadi kendala utama yang dihadapi oleh kebanyakan orang. Literatur yang kurang tepat dalam penyokong tugas penerjemahan akan memberikan konsep yang salah mengenai bahasa yang sebenarnya. Sehingga Fionty (2001) menilai bahwa terjemahan yang buruk adalah yang merubah keseluruhan makna dari teks originalnya serta mengkesampinghkan referensi-refensi budaya dari bahasa original tsb.

 

 

E.   Ketrampilan-Kertampilan Yang Harus Dimilki Para Siswa

 

1.      Membaca teks secara mendalam

            Fase pertama bagi para pemula dalam mencoba menterjemahkan adalah proses membaca teks. Kegiatan membaca mengarah kepada kemampuan kompetensi psikologi, karena ini berterkaitan dengan sistem perseptif. Saat kita membaca kita tidak menyimpan kata di otak kita. Membaca suatu teks terjemahan secara mendalam dapat memberikan kejelasan ide-ide yang terkandung dalam teks tsb.

 

2.      Kemampuan Mencari

            Enani(2002) menyarankan kepada para pemula jika tidak mengetahui arti sebuah kata, gunakan kamus untuk mencari jawabannya.

 

3.      Kemampuan Menganalisa

            Teks yang telah diterjemahkan harus dianalisa kembali hasilnya sehingga finished productnya tidak menyimpang dari ide-ide pokok yang dijabarkan dalam teks originalnya. Antara teks yang telah diterjemahkan harus tetap memiliki keterkaitan padu yang tentu saja tidak terpecah-pecah dan jauh dari ide utama dari pesan original teks tsb.   

 

4.      Kemampuan Menyusun

            Langkah  terakhir adalah menyusun hasil terjemahan  yang telah dianalisa kedalam kajian  yang lebih sempurna atau finished formnya. Dalam proses penyusunan terjemahan itu kita telah yakin bahwa ide-ide yang terkandung dalam teks originalnya telah ditrasformasikan kedalam bahasa targetnya.

            Problem  yang dihadapi kebanyakan orang dalam menterjemahkan sebuah teks bahasa Inggris dikarenakan lemahnya penguasaan kosakata, minat membaca yang kurang, terlebih-lebih membaca teks-teks yang berbahasa Inggris.

 

 

F.   The Process of Translation

 

       The process of translation between two different languages involves the translator changing an original text (ST) in original verbal language (SL) into a written text (TT) in a different verbal language (TL). In this replacement, only form of SL is changed and the meaning is held constant.

       Now it's time to answer the question "what is a good translation?" simply it depends on your criterion.

 

Equivalence can be a good criterion

Equivalence exists at different levels.

a.      Equivalence at word level:

o    Word is smallest unit which we expect to posses individual meaning.

o    Bollinger and Sear(1968): Word is the smallest unit of language that can be used by itself.

o    Morpheme is constituent part of word which can't be further analyzed.

 

b.      Equivalence above word level:

o    It refers to collocations made in terms of what is typical or untypical.

o    New collocations are made naturally by analogy or because speakers create unusual collocations purposefully.

o    Recurrent collocation: collocation with history of recurrence in language that become a part of our standard linguistic repertoire and we don't stop to think about them while reading a text.

o    Non-recurrent collocations: collocation with little or no history of recurrence and catch our attention and strike us as unusual.

 

c.       Grammatical equivalence:

o    Grammar is organized along two main dimensions: morphology (covers word structure) and syntax (covers grammatical structure).

o    Grammatical choices are obligatory, they are more resistant to change.

o    Grammatical rules are more resistant to manipulation by speakers.

 

d.      Textual equivalence:

1)      Thematic and information structure:

o    Theme : it is what the clause is about.(known / old information)

o    Rheme : it is what speaker says about the theme.(unknown / new information)

 

2)      Cohesion:

o    network of lexical, grammatical and other relations that provides links between various parts of a text.

o    Cohesive devices are: reference, substitution, ellipsis, conjunction and lexical cohesion.

 

e.       Pragmatic equivalence:

o    Coherence is network of conceptual, contextual relations.

o    Coherence of a text is result of interaction between knowledge presented in the text, reader's own knowledge and experience of the world.

 

Oblique (free) translation covers four strategies:

1) Transposition – interchange of parts of speech that don't effect the meaning, a noun phrase  for a verb phrase

2) Modulation – reversal of point of view (it isn't expensive / it's cheap)

3) Equivalence – same meaning conveyed by a different expression, which is most useful for proverbs and idioms

4) Adaptation – cultural references may need to be altered to become relevant

 

G.   Poetry and Translation

Rarely do studies of poetry and translation try to discuss methodological problems from a nonempirical position, and yet it is precisely that type of study that is most valuable and most needed.

      André Lefevere catalogues seven different strategies:
(1)   Phonemic translation, which attempts to reproduce the SL sound in the TL while at the same time producing an acceptable paraphrase of the sense.
(2)   Literal translation, where the emphasis on word-for-word translation distorts the sense and the syntax of the original.
(3)   Metrical translation, where the dominant criterion is the reproduction of the SL metre. This method concentrates on one aspect of the SL text at the expense of the text as a whole.
(4)   Poetry into prose. Distortion of the sense, communicative value and syntax of the SL text results from this method.
(5)   Rhymed translation, where the translator ‘enters into a double bondage’ of metre and rhyme.
(6)   Blank verse translation. The choice of structure are emphasized.
(7)   Interpretation. The substance of the SL text is retained but the form is changed.

Hilaire Belloc laid down six general rules for the translator of prose texts:
(1)   The translator should not ‘plod on’, word by word or sentence by sentence, but should ‘always “block out” his work’, translate as a whole.
(2)   The translator should render idiom by idiom ‘and idioms of their nature demand translation into another form from that of the original.
(3)   The translator must render ‘intention by intention’,
(4)   Belloc warns against les faux amis, those words or structures that may appear to correspond in both SL and TL but actually do not, e.g. demander—to ask translated wrongly as to demand .
(5)   The translator is advised to ‘transmute boldly’.
(6)   The translator should never embellish.


H.   Analisis kalimat

Dalam menganalisis kalimat suatu terjemahan, pastikan Anda sudah mengetahui mana subjek, predikat, objek, dan keterangan.
Dalam langkah ini, terdapat bagian-bagian yang rinci dalam kalimat yang bertindak sebagai fungsi, yaitu:
1.      Subjek dalam kalimat
2.      Kata kerja dalam kalimat.
3.      Objek dalam kalimat atau komponen
4.      Kata keterangan dalam kalimat.

       Kebanyakan kesalahan dalam menerjemah disebabkan karena tidak dianalisisnya terlebih dahulu bagian subjek, predikat, objek, dan keterangan dalam sebuah kalimat.

Contoh :
      The determination of the degree to which Sanskrit loan-words show Javanese influence in their meaning forms a rewarding subject of investigations for linguists.

Jika kalimat di atas dianalisis terlebih dahulu, kita akan mudah menemukan makna inti atau pesan yang ingin disampaikan oleh kalimat. Pembahasannya sebagai berikut.

            Subject            : The determination of the degree
            Adverb            : to which Sanskrit loan-words show Javanese influence in their meaning
            Verb    : forms
            Object : a rewarding subject of investigations for linguists

PASTIKAN PESAN KALIMAT BAHASA SUMBER DITANGKAP

Pertama, kita tentukan subjek, predikat, dan objek dari kalimat tersebut. Hasil dari penentuan akan terlihat seperti ini:

      The determination of the degree to which Sanskrit loan-words show Javanese influence in their meaning forms a rewarding subject of investigations for linguists .

      The determination of the degree forms a rewarding subject of investigations for linguists.

Setelah ditentukan bagian inti kalimat, kemudian diterjemahkan:
The determination of  = kuatnya
  Degree                        = tingkat
  Forms                         = membentuk
  Rewarding                 = berharga
  Subject                       = subjek
  Investigations             = penyelidikan
  For                              = bagi
  linguists.                     = ahli bahasa

Kuatnya tingkat membentuk suatu subjek penyelidikan yang berharga bagi para ahli bahasa.

SUSUN KEMBALI KALIMAT JIKA TIDAK SEARAH
Kalimat di atas adalah one-way complex sentence sehingga ridak perlu dilakukan penyusunan ulang.

USAHAKAN MENERJEMAH SAMPAI TINGKAT IDIOMATIK

       Mengacu pada teori Larson, kalimat di atas masih bersifat inconsistent mixture. Maka untuk menjadikannya idiomatic, perlu ada penyesuaian pada beberapa kata dan hasilnya di bawah ini:

  Kuatnya tingkat membentuk suatu subjek penyelidikan yang berharga bagi para ahli bahasa.

Kini tinggal satu bagian lagi yang harus dipecahkan, yaitu:

…. to which Sanskrit loan-words show Javanese influence in their meaning….
 
Dan diterjemahkan seperti di bawah ini:

…. Pengaruh bahasa Jawa pada makna terhadap kata-kata pinjaman bahasa Sansekerta ….

Terjemahan lengkapnya menjadi:

The determination of the degree
Subject
Kuatnya tingkat
to which Sanskrit loan-words show Javanese influence in their meaning
Adverb
Pengaruh bahasa Jawa pada makna terhadap kata-kata pinjaman bahasa Sansekerta
Forms
Verb
membentuk
a rewarding subject of investigations for linguists.
Object
suatu subjek penyelidikan yang berharga bagi para ahli bahasa

Maka hasil terjemahan dari:

      The determination of the degree to which Sanskrit loan-words show Javanese influence in their meaning forms a rewarding subject of investigations for linguists.

Adalah :

Kuatnya tingkat Pengaruh bahasa Jawa pada makna terhadap kata-kata pinjaman bahasa Sansekerta  membentuk suatu subjek penyelidikan yang berharga bagi para ahli bahasa.


Analisis kalimat di bawah ini:

It is difficult to explain the Indian influence an Old Javanese – which was, as we have seen, almost exclusively Sanskrit – as being the result of ordinary social contacts or, in particular, of intermarriage between Indonesians and foreigners of Indian origin who had established themselves either temporarily or permanently in java.


Hasil dari analisis kalimat tersebut adalah :

It          is           difficult
S          V         Compl

to explain the Indian influence an Old Javanese
Adv (mengacu pada old Javanese )

which was, as we have seen, almost exclusively Sanskrit
Adv (mengacu pada difficult )

as being the result of ordinary social contacts or, in particular, of intermarriage between Indonesians and foreigners of Indian origin
Adv (mengacu pada the Indian influence an Old Javanese )

who had established themselves either temporarily or permanently in java.
Adv (mengacu pada foreigners of Indian origin )

Subject : It
Verb    : Is
Compl : difficult
Adverb            : to explain the Indian influence an Old Javanese
Adverb : which was, as we have seen, almost exclusively Sanskrit
Adverb : as being the result of ordinary social contacts or, in particular, of 
                intermarriage between Indonesians and foreigners of Indian origin


Hasil terjemahannya yaitu:


It
Subject
-
Is
Verb
-
Difficult
Compl
Sulit
to explain the Indian influence an Old Javanese
Adverb
Menerangkan pengaruh bahasa India terhadap bahasa jawa kuno
which was, as we have seen, almost exclusively Sanskrit
Adverb
Yang seperti telah kita lihat, hampir seluruhnya bahasa Sansekerta.
as being the result of ordinary social contacts or, in particular, of intermarriage between Indonesians and foreigners of Indian origin
Adverb
Apakah sebagai hasil dari hubungan social biasa atau secara khusus, hasil dari hubungan perkawinan antara orang Indonesia dan orang asing asal India yang telah tinggal baik secara sementara maupun secara permanen di pulau Jawa.

Sulit menerangkan pengaruh bahasa India terhadap bahasa Jawa kuno Yang seperti telah kita lihat, hampir seluruhnya bahasa Sansekerta Apakah sebagai hasil dari hubungan social biasa atau secara khusus, hasil dari hubungan perkawinan antara orang Indonesia dan orang asing asal India yang telah tinggal baik secara sementara maupun secara permanen di pulau Jawa.


Sentence analysis 1

The selection of the romantic story novels today will be compared with that of the ancient romantic story manuscripts written in the 17th  century to highlight the similarities and differences between them.

Analysis

Subject  : The selection of the romantic story novels
Adverb              : written today
Verb       : will be compared
Adverb              : with that of the ancient romantic story manuscripts written in the
                17th  century
Adverb              : to highlight the similarities and differences between them.


Translation

The selection of the romantic story novels
Subject
Kumplan novel kisah romantic
written today
Adverb
Yang ditulis saat ini
will be compared
Verb
Akan dibandingkan
with that of the ancient romantic story manuscripts
Adverb
Dengan kumpulan naskah kisah romantic tua
written in the 17th  century
Adverb
Yang ditulis pada abad 17
to highlight the similarities and differences between them.
Adverb
Untuk menyoroti kesamaan dan perbedaan di antara keduanya.

Maka hasil terjemahan dari:
       The selection of the romantic story novels today will be compared with that of the ancient romantic story manuscripts written in the 17th  century to highlight the similarities and differences between them.

Adalah :
      Kumplan novel kisah romantic yang ditulis saat ini akan dibandingkan dengan kumpulan naskah kisah romantic tua yang ditulis pada abad 17 untuk menyoroti kesamaan dan perbedaan di antara keduanya.


Sentence analysis 2
It is discovered that the selection of the ancient romantic story manuscripts written in the 17th century are more interesting than that of the romantic story novels written today.

Subject  : it
Verb       : is discovered
Object   : that the selection of the ancient romantic story manuscripts written
                in the 17th century are more interesting than that of the romantic
                story novels written today



Translation

It
Subject
-           
is discovered
Verb
ditemukan
that the selection of the ancient romantic story manuscripts written in the 17th century are more interesting than that of the romantic story novels written today
Object
bahwa kumpulan naskah kisah romantic kuno yang ditulis pada abad 17 lebih menarik daripada kumpulan novel kisah romantic yang ditulis saat ini.

Maka hasil terjemahan dari:
       It is discovered that the selection of the ancient romantic story manuscripts written in the 17th century are more interesting than that of the romantic story novels written today.

Adalah :
      Ditemukan bahwa kumpulan naskah kisah romantic kuno yang ditulis pada abad 17 lebih menarik daripada kumpulan novel kisah romantic yang ditulis saat ini.


I.   Types of Translation

       According to Larson(1984:15) translation is classified into two main types, namely form-based and meaning-based translation . Form-based translation attempts to follow the form of the Source Language and is known as literal translation , while meaning-based translation makes every effort to communicate the meaning of the SL text in the natural forms of the receptor language. Such translation is called idiomatic translation .
       The literal translation can be understood if the general grammatical form of the two languages are similar. Most translators who tend to translate literally actually make a partially modified literal translation. They modify the order and grammar to use an acceptable sentence structure in the receptor language. However, the lexical items are translated literally and still the results do not sound natural.
       Larson (1984:16) says that idiomatic translations use the natural forms of the receptor language both in the grammatical constructions and in the choices of lexical items. A truly idiomatic translation does not sound like a translation. It sounds like it was written originally in the receptor language. Therefore, a good translator will try to translate idiomatically. This is his or her goal.
       In practice, however, it is hard to consistently translate idiomatically or literally. These translations are often a mixture of literal and idiomatic forms of language. Translation then falls on a continuum from very literal to literal, to modified literal, to near idiomatic, to idiomatic, and may fall, even more on the unduly free as displayed below.
 Example :
1   Source Language :
Road Accidents Claim 14 Lives
Ø Literal Translation :
Kecelakaan Jalanan menewaskan 14 nyawa
Ø Inconsistent Mixture :
Kecelakaan Jalanan Menewaskan 14 nyawa
Ø Idiomatic translation :
Kecelakaan Lalu Lintas Menewaskan 14 Orang


2   Source Language :
  At least 14 people died in road accidents on Friday as most Indonesian Muslims were preparing to observe Idul Fitri holiday next week.
Ø Literal Translation :
Pada paling sedikit 14 orang mati dalam jalan kecelakaan di atas Jumat seperti kebanyakan Indonesia Muslim adalah mempersiapkan untuk mengamati idul Fitri Liburan selanjutnya minggu.
Ø Inconsistent Mixture :
Setidaknya 14 orang terbunuh dalam kecelakaan jalanan pada hari Jumat saat hamper semua kaum Muslimin Indonesia sedang bersiap untuk mengamati liburan hari raya idul Fitri minggu depan.
Ø Idiomatic translation :
Setidaknya 14 orang tewas dalam beberapa kecelakaan lalu lintas pada hari Jumat saat hamper semua kaum Muslimin Indonesia bersiap untuk merayakan hari raya Idul Fitri minggu depan.

3   Source Language :
The accident killed 55 people, mostly school girls from Yapemda senior high school in Sleman regency Yogyakarta.
Ø Literal Translation :
Kecelakaan membunuh 55 orang, kebanyakan sekolah gadir dari Yapemda senior tinggi sekolah dalam Sleman kabupaten Yogyakarta.
Ø Inconsistent Mixture :
Kecelakaan itu membunuh 55 orang yang kebanyakan siswi sekolah dari SMU Yapemda di kabupaten Sleman Yogyakarta.
Ø Idiomatic translation :
Kecelakaan itu menewaskan 55 orang korban yang kebanyakan dari mereka adalah para siswi SMU Yapemda kabupaten Sleman Yogyakarta .


J.   Relative clause

       Ketika menerjemahkan, kita sering menemui kalimat yang melibatkan konstruksi ralative clause, yaitu kalimat  yang menerangkan baik subjek, objek, maupun keterangan. Di antara kalimat-kalimat yang memuat konstruksi tersebut, terdapat jenis kalimat yang jika diterjemahkan secara harfiah atau diterjemahkan searah dari kiri ke kanan atau dengan kata lain tanpa disusun ulang, hasil terjemahannya akan sangat kaku dan bahkan menyesatkan. Untuk tingkat mudah ini, bagian setelah relative clause adalah kata kerja.

Ø  The man who answered the phone was his uncle.
Orang yang menjawab telpon itu pamannya.
Ø  The man who is standing under the tree is my friend.
Orang yang sedang berdiri di bawah pohon itu teman saya.
Ø  The cat that stole the fish on the plate ran outside.
Kucing yang mencuri ikan di atas piring itu lari keluar.
Ø  The car which collided a bike was Susan’s.
Mobil yang menabrak sebuah sepeda itu milik Susan.
Ø  The girls whose hair is blonde is Jenifer.
Gadis yang rambutnya pirang itu Jenifer.
Ø  Here is a book which describes animals’ life.
Inilah buku yang menggambarkan kehidupan binatang.
Ø  The chair which he broke is being repaired.
Kursi yang dia rusak sedang diperbaiki.

Sekarang mari kita bahas kalimat relative clause yang sebenarnya memiliki arti tempat , ketika , atau saat .
Ø  The small town in which I was born has grown to a large metropolis.
Kota kecil tempat aku dilahirkan sudah menjadi kota besar.
Ø  The house in which he used to live has been sold to my family.
Rumah tempat dia dulu tinggal sudah dijual pada keluargaku.

Kedua kalimat di atas melibatkan kata yang berhubungan dengan tempat, yaitu small town dan house , oleh karena itu relative clause in which dalam kalimat itu diartikan tempat . Dalam bahasa inggrisnya sendiri, kalimat di atas bisa diubah menjadi:
Ø  The small town where I was born has grown toa large metropolis.
Kota kecil tempat aku dilahirkan sudah menjadi kota besar.
Ø  The house where he used to live has been sold to my family.
Rumah tempat dia dulu tinggal sudah dijual pada keluargaku.

Dan kalimat di bawah ini melibatkan kata yang berhubungan dengan waktu, yaitu time, day, month, dan year dan relatve clause yang ada diterjemahkan adalah ketika atau saat. Lihat contoh dibawah ini:
Ø  The time at wich he had to present his findings was postponed.
Waktu ketika dia harus mempresentasikan temuannya itu ditunda.
Ø  The time when he had to present his findings was postponed.

Ø  The day on which they were to leave finally arrived.
Hari ketika mereka harus berangkat akhirnya tiba.
Ø  The day when they were to leave finally arrived.


Ø  The month in which he was having his leave was interrupted by his office work.
Bulan saat dia sedang dia ambil cuti terganggu oleh pekerjaan kantornya.
Ø  The month in which he was having his leave was interrupted by his office work.





Related articles: 


The Microlinguistics Contrastive Analysis Between Javanese Language Of Banyumasan And English
The Morphological analysis on the Javanese Language of Banyumasan 
Error Analysis
Conversation Analysis on Deixis
Classroom Action Research
Quantum Teaching  
Theory of Translation
Tes dan Evaluasi 
Faktor Sosiokultural pada Pembelajaran Bahasa 
Kumpulan Analisa Cerpen 
Language Acquisition
Learning Style 
Effective Public Speaking Skills